20 Mei 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
mas-mas, mbak-mbak, apa deh esensinya demo? udah panas2, capek2. zaman sudah berbezaa..udah gak bisa copy-paste jaman orba
Krisis Timur Tengah
28 Jan 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in cuma pengen ngomong, latihan nulis, oh ekonomika..
Saya sebenarnya masih bingung ingin menuliskan apa. Sedikit ndalan mungkin karena akan menuliskan tentang sesuatu yang lebih serius (hehe). Tapi justru karena apa yang ingin saya tuliskan itu serius saya malah jadi takut karena tidak bisa menuliskannya. Masih sederhana saja, namanya juga latihan..belum terlalu dalam. Oke, bismillah..
Awalnya saya melihat berita di teve yang memberitakan tentang krisis yang terjadi di Mesir di mana terjadi kerusuhan yang berawal dari unjuk rasa menuntut turunnya rezim yang sedang berkuasa. Hal ini sebelumnya juga terjadi di Tunisia yang juga mengalami hal yang sama. Demonstrasi di Tunisia konon kabarnya berawal dari aksi bakar diri oleh seorang alumni sebuah perguruan tinggi yang putus asa karena tidak juga mendapatkan lapangan pekerjaan. Namun ini hanyalah faktor kecil karena ada sesuatu yang lebih besar, yakni pemerintahan yang korup serta demokrasi yang tertutup sehingga menyulut kemarahan masyarakatnya. Selama ini pendapatan utama dari Tunisia adalah dari pariwisata, berbeda dengan negara tetangga lainnya yang memiliki sumber-sumber minyak seperti Aljazair dan Libya. Tingginya pengangguran akibat minimnya lapangan pekerjaan itulah, yang kemudian ditunjukkan dengan aksi bakar diri, yang kemudian berujung pada demonstrasi besar-besaran menuntut turunnya presiden Tunisia, Ben Ali, yang sudah menjabat selama 23 tahun. Dan akhirnya tumbang.
Peristiwa ini tidak berhenti di sini saja, terutama pengaruhnya. Aljazair juga ikut bergejolak dengan demonstrasi yang juga dipicu oleh tingginya harga-harga bahan makanan pokok. Selain berpengaruh pada Aljazair, peristiwa yang terjadi di Tunisia turut menginspirasi masyarakat Mesir melakukan hal yang sama yakni meruntuhkan rezim yang berkuasa. Masyarakat menghendaki revolusi terjadi di pemerintahan. Presiden Hosni Mubarak telah berkuasa sejak tahun 1981. Permasalahan yang terjadi di Mesir juga hampir sama dengan yang terjadi di Tunisia yakni akibat kenaikan harga bahan pangan, pengangguran, dan kemarahan atas praktik korupsi oleh pejabat. Gejolak yang terjadi di Mesir masih merupakan awal, belum diketahui apakah yang akan terjadi dengan nasib pemerintahan. Namun terdengar kabar bahwa Yaman juga turut tertular krisis ini.
Ternyata masalah-masalah seperti ini juga dapat berdampak sistemik karena selain karakteristik pemerintahannya sama, hal ini juga dipicu oleh permasalahan ekonomi yang hampir sama pula. Kasus yang terjadi di timur tengah tersebut mengingatkan kita pada apa yang terjadi di Indonesia. Orde Baru yang berkuasa selama hampir 33 tahun yang kemudian jatuh karena demonstrasi besar-besaran. Dan dipicu oleh apa? Yap! krisis moneter yang terjadi di negara kita menghimpun kekuatan besar rakyat yang terbelalak oleh rusaknya negara ini dengan pemerintahan yang korup. Saya jadi teringat dengan sesuatu yang saya dengar dulu mengenai hubungan antara ekonomi dengan demokrasi. Suatu keadaan di mana perekonomian tidak berjalan dengan baik selama rezim yang berkuasa terlalu lama akan membuat masyarakat menuntut adanya reformasi yang menuju pada ditegakkannya demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi sendiri dapat berjalan dengan baik jika suatu negara mencapai pendapatan per kapita PPP sebesar 6.600 dollar AS sedangkan Indonesia saat ini ada pada 4.000 dollar AS, dan diperlukan waktu sekitar sembilan tahun untuk mencapai kemapanan tersebut. Namuuuun..jika sistem demokrasi yang terjadi di suatu negara itu dianggap gagal, maka justru masyarakat akan berbalik menuntut adanya pemerintahan yang seperti dulu lagi (apa ya istilahnya). Oleh karena itu hubungan antara ekonomi dan demokrasi ini sebenarnya saling mendukung dan positif. Lalu bagaimana dengan kabar demokrasi Indonesia saat ini?
Referensi: dari kompasiana dan hasil browsing lainnya, buku kumpulan esai ekonomi “Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?”
WOI?!!
01 Nov 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
ke mana kalian para anggota DPR saat negara ini dilanda bencana? kalian diam tak ada suara. tidak seperti saat panggung politik sedang ramai.
oh iya, kalian sedang jalan-jalan di luar negeri ya. kabar tentang Indonesia? mungkin kalian tahu lalu..ah senang-senang dulu dipuasin mumpung di luar negeri. atau kalian malah tak mau tahu.
lebih baik kalian memang tidak usah pulang saja. memang benar kalian tak usah bicara daripada bencana ini menjadi dipolitisasi. karena sekali ada yang bicara, mulutnya sungguh tak punya rasa.
Ternodakah ilmu?
09 Okt 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Tulisan ini saat saya masih muda. Pikiran ini muncul saat saya masih haus ilmu, dan pun saya tak ingin kehilangan kehausan itu. Menjadi sebuah kegelisahan ketika ilmu semakin dikacaukan oleh uang. Ketika nilainya hanya diukur dari materi. Dan kita didoktrin menjadi manusia yang materialistis. Saat kita diminta untuk menguasai sesuatu untuk kelak mendapatkan sekian juta per bulan. Hina! Sungguh terhina ilmu dihargai dengan uang.
Ilmu bukan alat mencari harta, harta adalah ilmu itu sendiri.
Kau ingat saat kau bingung menentukan jurusan apa yang akan kau pilih saat kau akan melangkah ke universitas? Kau akan memikirkan orangtuamu, keinginanmu dan pasti sebesar apa keuntungan yang akan kau dapat setelah lulus nanti, seberapa besar kesempatanmu memperoleh pekerjaan. Dan itu yang kau sebut prospek. Dan kau akan bangga ketika kau mendapati cerita bahwa lulusan jurusan bla bla bla mendapat gaji sekian juta per bulan, ukuran yang besar untuk awal masuk di dunia kerja.
Lalu setelah kau masuk dalam jurusan yang kau pilih, dosen-dosenmu akan bercerita tentang keberhasilan seniormu yang kaya, tentang kemungkinanmu mendapat banyak uang. Dan mendapati diri yang tanpa sadar membuat itu sebagai tujuan mencari ilmu. Itukah yang disebut dengan keberhasilan? Itukah yang disebut dengan kesuksesan? Tak ada salahnya memang menjadi kaya, tak ada salahnya memang bertujuan punya uang banyak, yang salah adalah ketika kau menjadikan harta sebagai raja dan menggunakan ilmu untuk merayu sang raja.
Saya hanya tak mau kesakralan menuntut ilmu menjadi sempit artinya, yang didenotasikan dengan materi. Saya ingin ketulusan ada di dalamnya. Saya ingin kemanfaatan yang diberikannya. Karena sesungguhnya ilmu tak akan berarti apa-apa tanpa ada kita, manusia-manusia pembaharu.
Ummi-Abi, why..?
05 Okt 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Sebenarnya panggilan ummi dan abi itu untuk siapa sih. Untuk suami istri atau sebagai panggilan anak-anak untuk orangtuanya? Kalau sebagai panggilan antara suami dan istri, hal itu dikatakan panggilan yang kurang tepat jika dilihat secara bahasa Arab sendiri. Lalu bagaimana dengan panggilan ummi-abi dari anak-anak pada orang tuanya? Buat saya sih sebenarnya terserah-terserah saja bagi orangtua ingin anaknya memanggil orangtuanya dengan panggilan apa saja. Sebenarnya ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan mengapa memilih panggilan ummi dan abi. Apa dasar keinginan mereka menginginkan anak-anaknya memanggil orangtuanya ummi dan abi. Keluarga besar saya sendiri ada juga sih yang menerapkan panggilan itu untuk anak-anaknya. Eh eh tapi, gak harus kan. Panggilan itu tak akan menandakan bahwa sebuah keluarga itu adalah keluarga muslim kan, atau artian lebih, keluarga muslim yang taat. Jadi panggilan ummi dan abi itu hanya sekedar bahasa arab saja kan. Lah, kalau begitu saya lebih suka panggilan ayah/bapak dan ibu saja ah karena saya orang Indonesia, Jawa secara khusus mungkin, toh maknanya sama saja. Biar saja kalu panggilan itu sudah umum di lingkungan saya. Dan lagi saya tidak ingin latah sekadar latah yang cuma ikut-ikutan saja. Saya hanya tidak suka kalau sebuah panggilan maknanya menjadi bergeser dari arti bahasanya sendiri—seperti yang saya kadang rasakan pada bahasa ikhwan dan akhwat—yang kemudian terasa membedakan. Sungguh tak apa dan saya pun kadang-kadang menggunakan bahasa Arab dalam percakapan saya sehari-hari. Jadi panggilan dengan bahasa apapun yang dipakai, saya akan senatiasa menghormati
My new sweet baby – khedive!
21 Sep 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
konyol, sesuk anakku luwih ganteng!
cerita masa SD-ku
12 Feb 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in cuma pengen ngomong, Uncategorized
Seketika keinget sama jaman SD dulu, akhirnya coba inget-inget yang lain. Aku sekolah di SDN Pujokusuman I lokasinya kalo ga tau ada di Jalan Kolonel Sugiyono No. 9, kalo masi ga tau juga itu arahnya dari jokteng wetan ke timur ntar utara jalan yang halamannya lumayan gedhe sering buat Shalat Ied tapi dari aku SD mpe udah kuliah aku baru nyobain Shalat Ied di sana tahun lalu. Itu SD tempatnya lumayan gedhe karena ga cuma satu SD aja, tapi ada Pujokusuman II, III sama SDN Percobaan I dan ditambah lagi waktu aku masih kelas satu SLB C itu juga masih ada di situ. Ngomong-ngomong soal SLB C ni, dulu aku tau yang namanya Usi, anaknya gendut, potong pendek, itu anak usil banget..bandoku pernah ditarik trus dibuang gitu aja, woh!! Lupa waktu aku kelas berapa tapi SLB C trus pindah dengan segala kelucuan dan kenangan indahnya..jadi sedih..(Lho??). Tapi aku ga malu dulu pernah satu kompleks ma SLB, karena dari kecil aku liat langsung anak-anak luar biasa itu, jadi bisa dibilang aku cukup belajar lah “hei, kita dilahirkan dengan keadaan yang berbeda tapi kita tetep punya semangat sekolah yang sama,” jadi bisa menerima perbedaan dari kecil. Tapi aku ngaku dosa deh, dulu pernah becanda-becanda ma temen-temen sekelas ngetawain, niruin anak SLB, saya masih anak kecil waktu itu..saya minta maaf. Dan mungkin sedikit banyak pengamatan saya terhadap anak-anak luar biasa itu mempengaruhi kepribadian saya, hahaha. Apa alesanku masuk SDN Pujokusuman I?aku juga ga tau, kan aku dijorokin gitu aja ke sana ma bapak-ibuk, haha. Biarlah mereka yang tahu alasannya. Dulu tu masuk SD pake tes juga, tes ngitung, baca, warna, gambar, trus mengenali pribadi dan keluarga juga. Alhamdulillah..masuk, mungkin itu adalah seleksi pertamaku yang diikuti seleksi-seleksi yang lain dari hidupku kaya masuk SMP, SMA ma universitas.
• Ini dia guru-gurunyaaaa!
Kelas 1 : Guruku kelas satu SD namanya bu Ani, ini salah satu guru favorit deh pokoknya. Beliau tegas, sabar, dan pasti cukup telaten dan sangat mendidik precil-precil fresh-graduate dari taman kanak-kanak menjadi pribadi yang siap belajar. Bu Ani bikin kepengurusan kelas, ketua kelas waktu itu yang kuinget adalah rekan saya Bram Yasmin Ramadhan. Sebagai guru kelas satu pastinya Bu Ani harus bisa buat yang belom bisa baca lancar jadi bisa baca, nulis yang bener, jadi bisa ngitung, jadi lebih mandiri dan itu kerjaan susah tapi keren banget. Buku tulisnya kelas satu SD tu buku cacah gori sama buku kandel alus (ga tau basa indonesiane apa).
Kelas 2 : Bu Jum. Na kalo Bu Jum ni ciri-cirinya agak gendut, pake jilbab, ada tahi lalatnya di dagu. Yang paling kuinget ni dari Bu Jum, bu Jum tu tempatnya murid-murid pada nabung, jadi ga cuma kelas dua aja tapi kelas-kelas lain juga. Bu Jum suka ngutus muridnya buat belanja di pasar. Jadi ntar dua orang muridnya pas waktu istirahat dikasi duit ma catetan belanja apa aja trus dibelanjain di pasar Pujo. Kalo aku si belom pernah, seingetku Eva deh, sama sapa ya. Hahaha
Kelas 3 : Kalo guru kelas tiga namanya Pak Ngatijo, suka bawa penggaris kayu yang gede itu. Ngurusin kuku-kuku muridnya juga (iya ga si), jadi panjang dikit langsung ditegor. Kata-kata favorit yang suka keluar dari Pak Ngatijo adalah “Wooo..wudelmu bodong!” Mulai kelas tiga ni udah ada pelajaran Nari, masuk muatan lokal mungkin ya, hukumnya wajib mpe kelas enem. Cuma aku lupa tu gurunya namanya sapa, Pak sopo ngono..dengan tarian andalannya tarian Blekdidot (???), hehee. Atau tarian yang lagunya “kita merdeka..jeng jeng kita merdeka jeng jeng..”
Kelas 4 : Guru kelas empat, Pak Hasan. Pak Hasan ni yang aku sebut guru beneran. Kalo dirasa-rasa Pak Hasan tu udah nerapin SCL (Student Center Learning) dari dulu. Belajar di kelasnya Pak Hasan tu hidup banget rasanya, semangat belajar tinggi, ngrasa bener-bener sekolah deh!. Kalo udah selese ngerjain soal-soal musti cepet-cepet nulis namanya di papan tulis. Soalnya ntar dari nile yang didapet dari nyocokin soa-soal masih diranking berdasarkan urutan di papan tulis. Jadi kalo dapet nile 100 ranking 1 wah itu bangga banget deh. Haha jadi inget ni, model nyocokin sama pak Hasan kan diputer, pas itu aku nyocokin punya Yolas, soalnya tanya ‘apakah sumpah Palapa itu?’ Yolas jawabannya ‘Makanan yang terbuat dari kelapa’, kayane udah kepepet banget tu Yolas jawabnya gitu. Di kelasnya Pak Hasan juga ni jadi lebih sering nyanyi dengan benar. Judul lagunya kalo ga salah ‘Desaku’ aku udah lupa liriknya tapi lagu itu seingetku damai banget.
Kelas 5 : Waktu kelas lima gurunya Pak Endarto akrabnya Pak En. Pak En tu katanya galak tapi beliau lucu juga si kadang-kadang. Kenangan apa ya dari Pak En tu, gak banyak yang kuinget.
Kelas 6 : Na…guru sensasional ni guru kelas enem. Sapa too yang gak kenal bapak kita ini, Pak Dayat. Hehe. Tiap hari masuk jam setengah tujuh buat ulangan, tiap sebelum pulang sekolah dibagiin kertas materi yang diisi bolong-bolongnya buat materi ulangan besok. Pak Dayat juga yang ngajarin mainin recorder, oh pak Dayat kalau gak ada beliau mungkin aku ga bisa mainin alat musik apa-apa. Gimana juga Pak Dayat ni yang nganterin kita lulus SD teman, salut deh buat beliau. Kalo kelas enem ni ketua kelasnya Masagung Sukmonohadi a.k.a agung a.k.a suke (sekarang jadi ketua ikamma loo!!haha) Selain guru, masih ada hal-hal laen pas SD. Kebiasaan laen kalo pas SD kalo kita cewek-cewek ni suka tuker-tukeran ngisi buku diari itu, ada biodata super lengkap deh, ada kata-kata mutiaranya juga, trus ada yang kaya gini ni contonya
L : Lupakan
U : Urusan
P : Pacar
U : Utamakan
S : Sekolah (LOL)
Kalo kegiatan bareng-bareng satu kompleks tu pas Jumat bersih, kaya biasanya..yak senam SKJ yang terkenal itu, kalo senam udah selese trus ntar ngambilin sampah yang ada di halaman diiringi lagu Indonesia tanah air beta. SD jadi 6 tahun penting dari perjalanan hidupku juga. Tumbuh bareng ma temen-temen, ada yang naksir-naksiran, ada juga yang musuh-musuhan kejem banget. Banyak lah cerita laennya, hai teman-teman satu SD dan satu kompleks mungkin kalian punya cerita nyenengin n lucu lainnya waktu SD?!!
ku beranjak dewasa?
24 Jan 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Andai aku tlah dewasa
Apa yang kan ku katakan
Untukmu idolaku tersayang, ayah…ooh…
Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu, Bunda…pelitaku
Penerang jiwaku dalam setiap waktu
*o……Ku tahu kau berharap dalam do’amu
Ku tahu kau berjaga dalam langkahku
Ku tahu slalu cinta dalam snyummu
o…Tuhan kau kupinta..
bahagiakan mereka sepertiku
Andai aku tlah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangnya
Kau slalu ku cinta….
Andai Aku Besar Nanti: Sherina
Lagu di atas salah satu lagu favoritku yang tak pernah bosan kudengar. Lagu anak yang penuh makna dan haru, tentang kasih sayang seorang ibu dan ayah serta anak dengan mulut kecilnya berdoa pada Tuhan untuk kebahagiaan orang tuanya.
Lagu itu udah 11 tahun yang lalu guys, umurku masi 9 tahun, kira-kira kelas 4 SD lah. Masih kecil, ingah-ingih, culun—mpe sekarang sii—. Sebelas tahun kemudian, see, sekarang ini secara fisik pasti udah beda banget ma yang dulu. I’m teenager, hampir meninggalkan teenage malah, udah mau 20 tahun ni. Mule dari wajah, penampilan, cara jalan mungkin, he. Tapi, aku belom berubah total.
Dari hampir 20 tahun ini, masih banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakk banget ‘afifah’ yang jelek-jelek. Nggak perlu kusebutin satu-satu, banyak banget.
Ingin menjadi manusia yang terus memperbaiki diri, semakin bijak, dan terus menghidupkan semangat mengejar mimpi. Dan hal penting yang harus kulakukan dengan sungguh-sungguh adalah BELAJAR!!!belajar apapun itu maksudnya.
Celaka, mungkin aku termasuk golongan itu. Ya Allah….astaghfirullah….dengan segala kerendahan hamba mengakui bahwa banyak hal yang menurun..hari ini justru bisa jadi lebih buruk dari hari sebelumnya..hamba malu..
Ingatkan aku kalau aku masih males-malesan ya remy.., teman-temanku, mbak-mbakku, adek-adekku, sering banget males belajar, males, males, males, argghh…satu kata yang efeknya luar biasa jeleknya.
Hah!dengan (sedikit) sungguh-sungguh harus kukatakan, tahun 1431 H, 2010, dan 20 tahunku harus bener-bener LEBIH BAIK!!!
Harus sungguh-sungguh beneran pas jalanin
One more song..still sherina,
Aku Beranjak Dewasa
Di malam..yang sunyi dan sesenyap ini
Dapatkah kumohon pada Yang Esa
Masihkah..tampak manis raut wajahku
Masihkah seputih kapas di hatiku
Bilakah..tak kukoyak mata hatiku
Woo..mungkinkah..
Begitu besarnya kasih-Mu untukku
Karunia dari-Mu setiap waktu
Tanpa-Mu takkan indah jalan hidupku
Tanpa-Mu takkan mudah nikmat rizki-Mu
Karena-Mu, selalu bersyukur saat ini..
Ku beranjak dewasa..
*
Semoga hidup ini..kulalui dengan hati yang seterang bintang-bintang, indah bertaburan
Tanpa kecewa amarah, prasangka oh..
Dan semoga slalu kujalani perintah-Mu Tuhan…
Bimbinglah diriku..
Penuh kasih, Yang Maha Pengasih
Do’aku selalu
Di malam ini..
pengguna jalan lain itu
15 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
Ini adalah sebuah perjalanan tentang mengapa aku masih bersamanya. Apapun keadaannya ingin tetap selalu bersama. Hanya saja, semua perjalanan kami berdua ini tak akan mulus begitu saja. Sedikit klise tapi memang setiap yang dijalani akan melalui kelokan-kelokan tajam, naik turun, jalan berbatu, hujan, terik, bertemu dengan pengguna jalan lain yang seringkali mengganggu perjalanan ini.
Pengguna jalan lain inilah yang sedang sangat mengganggu saat ini. Maksudnya memang tak ingin mengganggu tapi kami berdua sangat terganggu dengan sikapnya, dan menghambat perjalanan kami menuju suatu tempat yang kami berdua sebut adalah sesuatu yang indah kelak. Pengguna jalan lain itu sering muncul dengan tiba-tiba, didiamkan semakin menjadi, diperingatkan seakan tak mendengar. Tingkahnya membuat kami berdua gerah sampai akhirnya aku menegurnya dengan tegas. Tak lagi ia muncul dengan tiba-tiba di hadapan kami dengan seenak hatinya.
Tapi aku juga salah, masih juga menanggapi ketika ia bertanya. Seharusnya tak seperti itu dan aku tak dipercaya karena sikapku itu. Ini sangat menyesakkan bagi orang yang kusayang, bagi kami berdua. Aku sadari, aku salah, aku tak ingin membuat perjalanan kami berhenti seperti ini. Aku masih ingin lanjutkan perjalanan kami berdua ini dan terus menjaganya dari pengguna jalan lain itu, siapapun itu.


