Krisis Timur Tengah
28 Jan 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in cuma pengen ngomong, latihan nulis, oh ekonomika..
Saya sebenarnya masih bingung ingin menuliskan apa. Sedikit ndalan mungkin karena akan menuliskan tentang sesuatu yang lebih serius (hehe). Tapi justru karena apa yang ingin saya tuliskan itu serius saya malah jadi takut karena tidak bisa menuliskannya. Masih sederhana saja, namanya juga latihan..belum terlalu dalam. Oke, bismillah..
Awalnya saya melihat berita di teve yang memberitakan tentang krisis yang terjadi di Mesir di mana terjadi kerusuhan yang berawal dari unjuk rasa menuntut turunnya rezim yang sedang berkuasa. Hal ini sebelumnya juga terjadi di Tunisia yang juga mengalami hal yang sama. Demonstrasi di Tunisia konon kabarnya berawal dari aksi bakar diri oleh seorang alumni sebuah perguruan tinggi yang putus asa karena tidak juga mendapatkan lapangan pekerjaan. Namun ini hanyalah faktor kecil karena ada sesuatu yang lebih besar, yakni pemerintahan yang korup serta demokrasi yang tertutup sehingga menyulut kemarahan masyarakatnya. Selama ini pendapatan utama dari Tunisia adalah dari pariwisata, berbeda dengan negara tetangga lainnya yang memiliki sumber-sumber minyak seperti Aljazair dan Libya. Tingginya pengangguran akibat minimnya lapangan pekerjaan itulah, yang kemudian ditunjukkan dengan aksi bakar diri, yang kemudian berujung pada demonstrasi besar-besaran menuntut turunnya presiden Tunisia, Ben Ali, yang sudah menjabat selama 23 tahun. Dan akhirnya tumbang.
Peristiwa ini tidak berhenti di sini saja, terutama pengaruhnya. Aljazair juga ikut bergejolak dengan demonstrasi yang juga dipicu oleh tingginya harga-harga bahan makanan pokok. Selain berpengaruh pada Aljazair, peristiwa yang terjadi di Tunisia turut menginspirasi masyarakat Mesir melakukan hal yang sama yakni meruntuhkan rezim yang berkuasa. Masyarakat menghendaki revolusi terjadi di pemerintahan. Presiden Hosni Mubarak telah berkuasa sejak tahun 1981. Permasalahan yang terjadi di Mesir juga hampir sama dengan yang terjadi di Tunisia yakni akibat kenaikan harga bahan pangan, pengangguran, dan kemarahan atas praktik korupsi oleh pejabat. Gejolak yang terjadi di Mesir masih merupakan awal, belum diketahui apakah yang akan terjadi dengan nasib pemerintahan. Namun terdengar kabar bahwa Yaman juga turut tertular krisis ini.
Ternyata masalah-masalah seperti ini juga dapat berdampak sistemik karena selain karakteristik pemerintahannya sama, hal ini juga dipicu oleh permasalahan ekonomi yang hampir sama pula. Kasus yang terjadi di timur tengah tersebut mengingatkan kita pada apa yang terjadi di Indonesia. Orde Baru yang berkuasa selama hampir 33 tahun yang kemudian jatuh karena demonstrasi besar-besaran. Dan dipicu oleh apa? Yap! krisis moneter yang terjadi di negara kita menghimpun kekuatan besar rakyat yang terbelalak oleh rusaknya negara ini dengan pemerintahan yang korup. Saya jadi teringat dengan sesuatu yang saya dengar dulu mengenai hubungan antara ekonomi dengan demokrasi. Suatu keadaan di mana perekonomian tidak berjalan dengan baik selama rezim yang berkuasa terlalu lama akan membuat masyarakat menuntut adanya reformasi yang menuju pada ditegakkannya demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi sendiri dapat berjalan dengan baik jika suatu negara mencapai pendapatan per kapita PPP sebesar 6.600 dollar AS sedangkan Indonesia saat ini ada pada 4.000 dollar AS, dan diperlukan waktu sekitar sembilan tahun untuk mencapai kemapanan tersebut. Namuuuun..jika sistem demokrasi yang terjadi di suatu negara itu dianggap gagal, maka justru masyarakat akan berbalik menuntut adanya pemerintahan yang seperti dulu lagi (apa ya istilahnya). Oleh karena itu hubungan antara ekonomi dan demokrasi ini sebenarnya saling mendukung dan positif. Lalu bagaimana dengan kabar demokrasi Indonesia saat ini?
Referensi: dari kompasiana dan hasil browsing lainnya, buku kumpulan esai ekonomi “Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?”
