Ummi-Abi, why..?
05 Okt 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Sebenarnya panggilan ummi dan abi itu untuk siapa sih. Untuk suami istri atau sebagai panggilan anak-anak untuk orangtuanya? Kalau sebagai panggilan antara suami dan istri, hal itu dikatakan panggilan yang kurang tepat jika dilihat secara bahasa Arab sendiri. Lalu bagaimana dengan panggilan ummi-abi dari anak-anak pada orang tuanya? Buat saya sih sebenarnya terserah-terserah saja bagi orangtua ingin anaknya memanggil orangtuanya dengan panggilan apa saja. Sebenarnya ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan mengapa memilih panggilan ummi dan abi. Apa dasar keinginan mereka menginginkan anak-anaknya memanggil orangtuanya ummi dan abi. Keluarga besar saya sendiri ada juga sih yang menerapkan panggilan itu untuk anak-anaknya. Eh eh tapi, gak harus kan. Panggilan itu tak akan menandakan bahwa sebuah keluarga itu adalah keluarga muslim kan, atau artian lebih, keluarga muslim yang taat. Jadi panggilan ummi dan abi itu hanya sekedar bahasa arab saja kan. Lah, kalau begitu saya lebih suka panggilan ayah/bapak dan ibu saja ah karena saya orang Indonesia, Jawa secara khusus mungkin, toh maknanya sama saja. Biar saja kalu panggilan itu sudah umum di lingkungan saya. Dan lagi saya tidak ingin latah sekadar latah yang cuma ikut-ikutan saja. Saya hanya tidak suka kalau sebuah panggilan maknanya menjadi bergeser dari arti bahasanya sendiri—seperti yang saya kadang rasakan pada bahasa ikhwan dan akhwat—yang kemudian terasa membedakan. Sungguh tak apa dan saya pun kadang-kadang menggunakan bahasa Arab dalam percakapan saya sehari-hari. Jadi panggilan dengan bahasa apapun yang dipakai, saya akan senatiasa menghormati

