what pride do you mean, or it’s just your arrogancy

Ternodakah ilmu?

Tulisan ini saat saya masih muda.  Pikiran ini muncul saat saya masih haus ilmu, dan pun saya tak ingin kehilangan kehausan itu.  Menjadi sebuah kegelisahan ketika ilmu semakin dikacaukan oleh uang.  Ketika nilainya hanya diukur dari materi.  Dan kita didoktrin menjadi manusia yang materialistis.  Saat kita diminta untuk menguasai sesuatu untuk kelak mendapatkan sekian juta per bulan.  Hina! Sungguh terhina ilmu dihargai dengan uang.

Ilmu bukan alat mencari harta, harta adalah ilmu itu sendiri.

Kau ingat saat kau bingung menentukan jurusan apa yang akan kau pilih saat kau akan melangkah ke universitas? Kau akan memikirkan orangtuamu, keinginanmu dan pasti sebesar apa keuntungan yang akan kau dapat setelah lulus nanti, seberapa besar kesempatanmu memperoleh pekerjaan.  Dan itu yang kau sebut prospek.  Dan kau akan bangga ketika kau mendapati cerita bahwa lulusan jurusan bla bla bla mendapat gaji sekian juta per bulan, ukuran yang besar untuk awal masuk di dunia kerja.

Lalu setelah kau masuk dalam jurusan yang kau pilih, dosen-dosenmu akan bercerita tentang keberhasilan seniormu yang kaya, tentang kemungkinanmu mendapat banyak uang.  Dan mendapati diri yang tanpa sadar membuat itu sebagai tujuan mencari ilmu.  Itukah yang disebut dengan keberhasilan? Itukah yang disebut dengan kesuksesan? Tak ada salahnya memang menjadi kaya, tak ada salahnya memang bertujuan punya uang banyak, yang salah adalah ketika kau menjadikan harta sebagai raja dan menggunakan ilmu untuk merayu sang raja.

Saya hanya tak mau kesakralan menuntut ilmu menjadi sempit artinya, yang didenotasikan dengan materi.  Saya ingin ketulusan ada di dalamnya.  Saya ingin kemanfaatan yang diberikannya.  Karena sesungguhnya ilmu tak akan berarti apa-apa tanpa ada kita, manusia-manusia pembaharu.

Ummi-Abi, why..?

Sebenarnya panggilan ummi dan abi itu untuk siapa sih.  Untuk suami istri atau sebagai panggilan anak-anak untuk orangtuanya? Kalau sebagai panggilan antara suami dan istri, hal itu dikatakan panggilan yang kurang tepat jika dilihat secara bahasa Arab sendiri.  Lalu bagaimana dengan panggilan ummi-abi dari anak-anak pada orang tuanya? Buat saya sih sebenarnya terserah-terserah saja bagi orangtua ingin anaknya memanggil orangtuanya dengan panggilan apa saja.  Sebenarnya ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan mengapa memilih panggilan ummi dan abi.  Apa dasar keinginan mereka menginginkan anak-anaknya memanggil orangtuanya ummi dan abi.  Keluarga besar saya sendiri ada juga sih yang menerapkan panggilan itu untuk anak-anaknya.  Eh eh tapi, gak harus kan.  Panggilan itu tak akan menandakan bahwa sebuah keluarga itu adalah keluarga muslim kan, atau artian lebih, keluarga muslim yang taat.  Jadi panggilan ummi dan abi itu hanya sekedar bahasa arab saja kan.  Lah, kalau begitu saya lebih suka panggilan ayah/bapak dan ibu saja ah karena saya orang Indonesia, Jawa secara khusus mungkin, toh maknanya sama saja.  Biar saja kalu panggilan itu sudah umum di lingkungan saya.  Dan lagi saya tidak ingin latah sekadar latah yang cuma ikut-ikutan saja.  Saya hanya tidak suka kalau sebuah panggilan maknanya menjadi bergeser dari arti bahasanya sendiri—seperti yang saya kadang rasakan pada bahasa ikhwan dan akhwat—yang kemudian terasa membedakan.  Sungguh tak apa dan saya pun kadang-kadang menggunakan bahasa Arab dalam percakapan saya sehari-hari.  Jadi panggilan dengan bahasa apapun yang dipakai, saya akan senatiasa menghormati :D

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.